RESPON NEGARA-NEGARA DI DUNIA TERHADAP PROKLAMASI
KEMERDEKAAN INDONESIA
Pengakuan
dari negara lain bisa menjadi sangat penting dalam perkembangan negara tersebut
di masa depan. Pengakuan dari negara lain secara de jure dapat memenuhi kedua kebutuhan sosial
kehidupan bernegara, yaitu tidak mengasingkan suatu negara dari hubungan
internasional dan menjamin
kelangsungan hubungan internasional dan mencegah tindakan
merugikan bagi kepentingan individu dan hubungan antar bangsa. Pengakuan
kemerdekaan de jure merupakan titik awal bahwa keberadaan suatu negara sudah
sah menurut hukum internasional
1.
Negara-negara yang
Mendukung Kemerdekaan Indonesia
Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan
Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, secara de facto maupun de jure belum mengubah
keadaan. ternyata dukungan negara lain juga diperlukan. Apalagi setahun setelah
proklamasi Belanda (NICA) kembali berusaha merebut wilayahnya bersama kedatangan militer
Inggris. Agresi Militer
I dan II, lagi-lagi oleh NICA, sekaligus membuktikan vitalnya sokongan negara lain terhadap
upaya mempertahankan kemerdekaan. Sebab, karena tekanan Dewan Keamanan
PBB belaka, Belanda akhirnya menghentikan agresi, lalu kembali ke meja
perundingan jelang 1949.
Negara-negara yang pertama kali merespon/memberi
pengakuan bagi kedaulatan negara Indonesia.
a.
Pengakuan Mesir
terhadap Kemerdekaan RI
Mesir adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan
Indonesia. Lebih penting lagi, Mesir ikut menggalang dukungan dari Liga Arab
agar menerima kedaulatan Indonesia di mata hukum internasional.
Dari sisi kronologi, Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan
Indonesia pada 22 Maret 1946. Dukungan ini muncul setelah lobi gigih diplomat
RI di Ibu Kota Kairo beberapa bulan setelah Soekarno mengkonsolidasikan
kabinet. Tak sekadar mengakui,Mesir pula yang
meyakinkan Suriah, Irak, Qatar, serta Kerajaan Arab Saudi untuk mendukung
kemerdekaan Indonesia.
Mesir mengakui
kedaulatan negara RI secara de jure pada tanggal 10 Juni 1947, dengan
menunjuk H.M Rasjidi sebagai kuasa usaha RI, serta membuka Kedutaan Besar di Kairo. Hubungan
republik denganLiga Arab pun secara formal terjalin. Liga Arab lah yang berkali-kali
mengecam serta mendesak Belanda menghentikan agresi militer.
Karena pada masa revolusi itu, wilayah Indonesia terjadi kekosongan pemerintahan
setelah Jepang menyerah pada Sekutu, dan pasukan Sekutu akan mendarat dengan
membawa pasukan Belanda
yg ingin berkuasa
kembali di Indonesia. Pada persyaratan ini, kita tertolong dengan adanya
pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia dapat
menjadi berdaulat dan mendapat pengakuan internasional.
Sejak diketahui sebuah negeri muslim bernama Indonesia
memploklamirkan kemerdekaannya, Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), organisasi Islam
yang dipimpin Syaikh Hasan Al-Banna, tanpa kenal lelah terus menerus
memperlihatkan dukungannya. Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan
media yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk
menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran- koran lokal miliknya, berbagai
acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar. Para pemuda dan pelajar Mesir,
juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali- kali mendemo Kedutaan
Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan
teriakan- teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap mereka lakukan. Kondisi
ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo kewalahan. Mereka dgn tergesa mencopot
lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah
putih biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada
demonstran. Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI membuat
pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22
Maret 1946. Dengan begitu Mesir tercatat sebagai negara pertama yang
mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu menyusul Syria, Iraq,
Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut,
Liga Arab juga berperan penting dalam Pengakuan RI. Secara resmi
keputusan sidang Dewan Liga Arab tanggal 18
November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab supaya
mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Alasan Liga Arab
memberikan dukungan kepada Indonesia merdeka didasarkan pada ikatan keagamaan,
persaudaraan serta kekeluargaan. Melihat fenomena itu, majalah TIME pada 25
Januari 1946 dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan
Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim
terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri
Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.” Kenyataan ini seperti yang
diungkapkan oleh A.H. Nasution berikut
ini : "Karena itu tertjatatlah, bahwa negara negara Arab jang paling
dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaya
bagi diplomat- diplomat Indonesia
di luar negeri. Mesir,
Siria, Irak, Saudi Arabia, Jemen,memelopori pengakuan de jure RI
bersama Afghanistan dan Afghanistan ,
Iran dan Turki mendukung RI. Fakta ini merupakan hasil perdjuangan diplomat
revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-negara Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina
untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 : "ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan
sosial". Sementara itu negara Palestina
justeru secara de facto mengakui RI sebagai negara yang merdeka setahun
sebelum kemerdekaan RI yang sebenarnya, yaitu tepatnya pada tanggal 6 September
1944. Pengakuan tersebut disebarluaskan ke seluruh dunia Islam oleh seorang
mufti besar Palestina Syekh Muhammad
Amin Al-Husaini. Pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia ini bertepatan
dengan janji-janji yang dikeluarkan oleh Jenderal Kuniaki Koiso (P. M. Jepang)
terhadap kemerdekaan negara indonesia.
Ada juga yang memiliki pendapat bahwa negara yang pertama mengakui
kemerdekaan Indonesia baik secara de facto maupun de jure adalah Vatican, negerinya Paus. Kalau untuk kawasan
Eropa mungkin saja betul negara
ini yang pertama
tetapi kalau untuk yang
pertama di dunia, cukup sudah pernyataan dari pelaku sejarah
di atas yakni
A.H. Nasution untuk membantahnya.Negara Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret
1946. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1947
Mesir mengakui kedaulatan negara RI secara de jure. Hal ini ditandai dengan
ditanda-tanganinya secara resmi perjanjian persahabatan antara Indonesia dan
Mesir. Kemudian berhubungan dengan perjanjian persahabatan tersebut,
pemerintah NKRI mendirikan Kedutaan RI pertama
di luar negeri. Kemudian secara berturut-turut negara-negara di Timur
tengah atau Liga Arab memberikan dukungan dan pengakuan secara de jure terhadap
kemerdekaan Negara Indonesia.
Ø Sebab-Sebab Mesir Memberi Pengakuan Kemerdekaan RI
Persamaan Agama
Banyaknya
masyarakat Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir, banyak yang bekerja di Mesir
dan Banyak masyarakat Indonesia yang melakukan haji di Ara
Ø Proses
Indonesia Mendapatkan Kedaulatan dari Mesir
Peranan Mahasiswa-Mahasiswa
Indonesia yang belajar di Mesir (Univ. Al-Ahar, Kairo dan Zain Hassan), Irak
(Univ. Imron Rosyidi), dan di negara Arab lainnya Peranan Mahasiswa ditunjukkan dengan menanamkan bibit kemerdekaan melalui media massa yang ada di Arab b.
Delegasi Indonesia pertama RI di Mesir (7 April 1946) Utusan pertama Indnesia
yang mengunjungi Mesir adalah Suwandi Suwandi datang ke Mesir untuk menyampaikan rasa terimakasih Indonesia
karena Liga Arab memberi dukungan pada kemerdekaan RI dan akan tetap memberi
dukungan sampai RI benar-benar diakui kemerdekaannya
Ø Peran Mesir dalam Mendukung Kemerdekaan RI
1)
Peran dari organisasi Al-Ikhwan
Al-Muslimun yang dipimpin Syaikh Hasan Al- Banna
2) Aksi pemuda Mesir yang berdemo di Kedubes Belanda di Kairo
3) Mengirim delegasi Mesir (Abdul Mun’im) ke Yogyakarta
4)
Mesir mendorong agar Liga Arab
mengakui kemerdekaan RI (18 Nov 1946)
5)
Ditandatanganinya perjanjian
persahabatan antara RI (H. Agus Salim) dan Mesir (Fahmi Nokrasyi Pasha) (10
Juni 1947)
6)
Menteri LN Mesir dibawah kabinet
Ahmad Kasyabah Pasha mengirim nota resmi ke Belanda yang berisi permintaan dari
Mesir agar Belanda bersedia menghentikan aksinya di Indonesia
7)
Aksi pemboikotan oleh para buruh
di pelabuhan Port Said dan Terusan Suez terhadap kapal-kapal Belanda
B. Pengakuan India
terhadap Kemerdekaan RI
Negara mayoritas Hindu
ini merdeka dua tahun setelah proklamasi Soekarno-Hatta.
Kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah
membuat India antusias mendukung Indonesia. RI pun
diuntungkan dengan persahabatan Hatta dengan Perdana
Menteri Jawaharlal Nehru, pemimpin Partai Kongres
Nasional India. Ketika kelaparan melanda India yang saat itu
sedang ditekan
penguasa kolonial Inggris, Pemerintah RI menawarkan bantuan 500 ribu
ton padi. Bantuan itu dikirim pada 20 Agustus 1946. Berkat bantuan ini, India
yang kemudian merdeka pada 1947 sangat aktif mendukung Indonesia di forum-forum
PBB. Tak lama setelah merdeka, Hatta melawat ke Mumbai, menemui Nehru dan Mahatma
Gandhi.
India kemudian menjadi penggagas resolusi bangsa-bangsa
Asia-Afrika yang mengecam agresi militer Belanda ke Yogyakarta pada Desember
1948. Nehru menggelar konferensi Asia, yang berhasil mengumpulkan dukungan
Pakistan, Sri Lanka, Nepal, Libanon, Suriah, serta Irak, untuk mendesak Belanda
keluar dari wilayah RI.
Sebab-Sebab India Memberi Pengakuan Kemerdekaan RI
·
Persamaan Kebudyaaan (Hindu-Budha)
·
Persamaan nasib (sama-sama dijajah
atau sama-sama ingin merdeka)
·
Hubungan dekat antara pemimpin
negara (Nehru dan Moh. Hatta) (Feb 1927)
Ø
Proses Indonesia Mendapatkan
Kedaulatan dari India
1)
Semangat dari Para Pelajar
Indonesia yang ada di India Dibentuknya PPII (Persatuan Putera Indonesia di
India). Tujuan dibentuknya PPII adalah membela proklamasi negara dengan
mendesak para pemimpin India untuk mengakui Indonesia sebagai negara yang berdiri
dan berdaulat. Tugas dari PPII adalah :
2)
Meyakinkan pemimpin India
3)
Membentuk Balai Penerangan
(Indonesia Information Service) 9 Juni 1946·
Tugasnya : Menyiarkan, membuat buletin, serta
brosur-brosur dalam bahasa Inggris, Urdu, dan Indonesia tentang
segala sesuatu yang terjadi di Indonesia yang kemudian dilanjutkan ke media massa
dan pers di India dan nantinya dapat diteruska
ke perwakilan India yang ada di London
bekerjasama dengan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI) yang
anggotanya 700 pelaut Indonesia yang bekerja di kapal-kapal Belanda untuk
melakukan aksi mogok
4)
Diplomasi Sutan Sjahrir Sutan
Sjahrir mengadakan perjanjian bantuan Indonesia kepada India (18 Mei 1946).
Indonesia diwakili Sutan Sjahrir dan India oleh K.L Punjabi. Pengiriman padi ini terjadi
pada 20 Agustus
1946 di pelabuhan (Cirebon, Probolinggo, dan Banyuwangi). Dari tindakana ini P.M Nehru mengundang Sjahrir dan Moh. Hatta ke New Delhi untuk
menghadiri Konferensi Inter Asian Dalam Konferensi “Inter Asian Relation”
(23 Maret-2 April 1947). Sjahrir
berpidato yang isinya : (1)
Politik Luar Negeri Indonesia (Bebas-Aktif); (2) Bangsa-bangsa Asia harus
bersatu demi kepentingan bersama; (3) Menjalin persahabatan dengan bangsa lain.
5)
Diplomasi Moh. Hatta Moh. Hatta
bertemu dengan P.M Nehru untuk meminta bantuan senjata. Akan tetapi keinginan
ini tidak bisa dikabulkan oleh Nehru karena persenjataan India di pegang oleh Inggris.
Ø Peran India dalam Mendukung Kemerdekaan RI
1)
Mengirim obat-obatan ke Indonesia
(tindakan balasan atas bantuan Indonesia yang telah mengirim 500.000 ton padi
ke India)
2)
31 Juli 1947 India dan Australia mengajukan masalah Indonesia-Belanda ke DK PBB. Akibat
dari tindakan India dan Australia, PBB mengeluarkan resolusi (1 Agustus 1947)
untuk menghentikan pertikaian antara Indonesia dan Belanda melalui arbitrase
3)
Diadakannya Konferensi Asia di New
Delhi (20-25 Januari 1949). Konferensi ini dihadiri oleh negara-negara Asia,
seperti: Pakistan, Afganistan, Libanon, Suriah,Saudi Arabia, Philipina, India, Myanmar,Yaman dan Irak. Delegasi
Afrika berasal dari Mesir dan Ethiopia. Konferensi ini juga dihadiri
utusan dari Australia, sedang Indonesia dalam ini diwakili oleh Dr. Sudarsono.
Negara peninjau dari Cina, Nepal, Selandia Baru dan Thailand.
Resolusi yang
dihasilkan mengenai masalah Indonesia adalah sebagai berikut:
· Pengembalian pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta
·
Pembentukan Pemerintah ad interim
yang mempunyai kemerdekaan
· Dalam politik luar negeri, sebelum tanggal 15 Maret 1949 Penarikan
tentara Belanda dari seluruh Indonesia
· Penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia Serikat paling· lambat 1 Januari 195
Simak vidio berikut
https://youtu.be/XSgtfCloM64